Senin, 21 Februari 2011

Analisa Kearifan Lokal Masyarakat Kampung Ciptagelar


I.PENDAHULUAN


1.Latar Belakang

Perhatian pokok aspek kelembagaan adalah perilaku dengan kompleks faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku tersebut. Koentjaraningrat (1977), mengatakan bahwa wujud ideal kebudayaan yaitu berupa ide-ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya yang disebut sebagai adat istiadat atau adat. Wujud ideal merupakan bagian kebudayaan yang mempengaruhi dua wujud yang lainnya, yaitu wujud tata kelakuan dan wujud benda-benda. Wujud ideal dari kebudayaan terbagi menjadi empat lapisan yakni sistim nilai budaya, sistim norma, sistim hukum dan peraturan-peraturan khusus. Keempat lapisan tersebut secara berantai saling mempengaruhi, dimana sistim nilai budaya merupakan inti kebudayaan (core culture) yang mempengaruhi tiga hal yang lain.

Nilai (value) merupakan konsepsi-konsepsi abstrak didalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Ia mencerminkan suatu kualitas preferensi dalam tindakan, member perasaan identitas dan menentukan seperangkat tujuan yang hend-ak dicapai oleh suatu kelompok masyarakat tersebut. Karena itulah nilai meupakan unsur pokok dan fundamental dalam dalam masyarakat, serta menjadi tonggak bangunan struktur sosial. Nilai lebih tinggi dari norma, karena norma diturunkan dari nilai.

Norma merupakan aturan sosial, patokan berperilku yang pantas, atau tingkah laku rata-rata yang diabstraksikan. Kekuatan mengikat sistim norma terbagi menjadi empat tingkatan yakni cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores) dan adat istiadat (custom). Pelanggaran terhadap keempat tingkatan norma tersebut memiliki hukuman yang berbeda sesuai dengan level kekuatan yang mengikatnya. Norma bersumber dari nilai, serta merupakan wujud nyata dari nilai. Dalam norma termuat hal-hal tentang keharusan, dianjurkan, dibolehkan atau dilarang. Norma mengonrol perilaku manusia.

Kelembagaan merupakan tempat dimana norma tersebut hidup dan dijaga. Norma yang tumbuh dalam satu kelompok sosial akan berbeda dengan kelompok sosial lain. Karena itu, dalam mempelajari suatu kelembagaan perlu dicermati norma seperti apa yang dimiliki masyarakat tersebut. Pelasanaan praktik lapangan ini yang berlokasi di Kampung Ciptarasa dan Kampung Ciptagelar Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi Jawa Barat yang merupakan salah satu lokasi yang masih memegang teguh norma nilai-nilai dalam berkehidupan.


2. Tujuan

1. Mengetahui sistim norma/nilai yang ada Kampung Ciptarsa-
Ciptagelar dalam mengatur kehidupan masyarakat.
2. Mendapatkan pembelajaran mengenai hubungan antara
pengetahuan,kebijakan lokal, dan norma dengan pengembangan
masyarakat yang ada di kampung Ciptarasa-Ciptagelar.



II.METODE PELAKSANAAN


Kegiatan Praktek lapang dilaksanakan selama 2 hari dari tanggal 9 sampai 10 Januari 2009, berlokasi di Kampung Ciptarasa-Ciptagelar Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan bahwa Kampung Ciptarasa-Ciptagelar merupakan salah satu daerah yang masih terikat oleh aturan adat dan memegang teguh norma dan nilai yang ada dalam masyarakat.

Pelaksanaan praktek lapang dilakukan dengan metode survey dan wawancara dengan masyarakat, tokoh adat, dan pihak terkait menyangkut kehidupan sehari-hari, adat istiadat, pengetahuan lokal, inovasi tenologi dan sistem kelembagaan kemasyarakatan.


III. GAMBARAN UMUM

Secara administratif, Kampung Ciptagelar merupakan bagian dari desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Jarak Kampung Ciptagelar dari Desa Sirnaresmi 14 Km, dari kota kecamatan 27 Km, dan dari pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi 103 Km. Kampung Ciptagelar dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat (mobil) dan roda dua (motor).

Guna mencapai lokasi tujuan, dapat dilakukan dengan kendaraan roda empat dan roda dua yaitu melalui Palabuhanratu - Cisolok berhenti di Desa Cileungsing. Dari Desa Cileungsing menuju Desa Simarasa dan berhenti di Kampung Pangguyangan. Di Karnpung Pangguyangan menuju Kampung Ciptarasa kemudian Ciptagelar dapat ditempuh dengan naik kendaraan roda dua (motor) mengingat kondisi jalan yang berat.
Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar merupakan nama baru untuk Kampung Ciptarasa. Artinya sejak tahun 2001, Kampung Ciptarasa yang berasal dari Desa Sirnarasa melakukan “hijrah wangsit” ke Kampung Ciptagelar yang berjarak 9 Km dari Kampung Ciptarasa. Ciptagelar sendiri mempunyai arti terbuka atau pasrah. Kampung ini berada di gunung Halimun yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dan berada pada ketinggian 1200 mdpl. Sedangkan Kampung Ciptarasa sendiri berada di dipunggung Gunung Sangiang dan Gunung Bodas, terletak pada ketinggian 750 mdpl.

Kepindahan Kampung Ciptarasa ke kampung Ciptagelar lebih disebabkan karena “perintah leluhur” yang disebut wangsit. Wangsit ini diperoleh atau diterima oleh Abah Anom setelah melalui proses ritual beliau yang hasilnya tidak boleh tidak, mesti dilakukan. Oleh karena itulah kepindahan kampung adat bagi warga Ciptagelar merupakan bentuk kesetiaan dan kepatuhan kepada leluhurnya. Kampung adat Ciptagelar dihuni oleh 293 orang yang terdiri dari 84 KK yakni 151 Laki-Laki dan 142 Perempuan.


IV.HASIL PELAKSANAAN


A. Kehidupan Sosial

Kampung Kasepuhan Ciptagelar, kini dipimpin oleh Ugi putra dari Abah Anom yang umurnya masih relatif muda 22 tahun, dan biasa disebut sebagai abah. Karena itu pula sebutan lengkap sang pemimpin adat itu adalah Abah Ugi.
Begitu sampai di kampung itu, langsung terasa suasana lain dan akan terlihat bentuk rumah sederhana khas Sunda yang masih sangat tradisional. Atapnya masih menggunakan ijuk dan hampir semua bahan material rumahnya menggunakan kayu serta bambu sehingga tampak asri dan alami.

Di antara tempat tinggal penduduk adat, terdapat rumah besar. Bangunan itu merupakan tempat tinggal pemimpin adat yang disebut imah gede. Di dalamnya ada balai pertemuan dan rumah Abah (pemimpin adat). Yang unik lagi, dekat dengan imah gede terdapat leuit (lumbung padi) "Si Jimat" yang merupakan leuit terbesar. Di sekeliling rumah warga pun banyak terdapat deretan leuit yang beratapkan ijuk.

Kebersamaan di antara masyarakat Ciptagelar tampak begitu erat, baik pada masyarakat jiwa jero (warga adat dalam) maupun jiwa luar (warga adat luar). Kebersamaan diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan dengan ciri khas kemandirian masyarakat. Mulai dari pertanian padi, pengairan sawah, pengadaan air bersih, hingga membangun perekonomian terutama dalam mewujudkan ketahanan pangan. Pembangunan infrastruktur pun mereka kerjakan sendiri melalui gotong royong. Mulai dari pembuatan jalan, listrik, perumahan, hingga telekomunikasi.

Di tengah kekhawatiran banyak orang atas semakin sulitnya mendapatkan bahan makanan, terutama beras, khususnya pada musim kemarau yang belum jelas kapan berakhirnya ini, warga Kasepuhan Ciptagelar dan Kesatuan Adat Banten Kidul pada umumnya patut dijadikan contoh oleh kita semua. Bagaimana warga di sana berusaha hidup mandiri, sebanyak mungkin melepas ketergantungan kepada pihak lain, namun di sisi lain menjunjung tinggi kegotongroyongan di dalam "keluarga" sendiri adalah hal yang sudah semakin hilang di sekeliling kita.

Meskipun mereka hidup dari hasil bersawah dan berladang yang panen hanya sekali setahun, di keluarga Kesatuan Adat Banten Kidul itu tak terdengar ada kabar tentang kekurangan pangan, apalagi kelaparan. Bahkan, lumbung-lumbung gabah tidak pernah kosong sepanjang tahun. Semua rumah milik warga adat di sana mempunyai lumbung beras sendiri-sendiri. Setiap keluarga ada yang mempunyai satu-dua lumbung, tetapi ada juga yang punya sembilan sampai 12 lumbung. Setiap lumbung kapasitasnya bervariasi, antara 2,5 ton sampai 10 ton gabah kering.

Dari sisi filosofi Leuit mengandung sebuah kearifan lokal yang sudah diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi melalui bahasa yang dipahami bersama akan keharusan “ Ngeureut ceum neum deum keur jagani isuk” (menyisikan untuk hari depan). Inilah wujud tabungan yang sesunguhnya telah dipraktekan lama untuk beberapa tempat ada yang telah dikelola berupa simpan pinjam padi. Leuit menjadi penyambung atau wujud dari beberapa bahasa pitutur dari ajaran-ajaran sunda dan mungkin ini juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Sentuhan tradisi dengan nuansa sakral membuat leuit dilingkungan warga kesatuan adat bisa lestari.

Selain lumbung-lumbung yang dimiliki masing-masing warga tersebut, ada juga lumbung paceklik yang khusus disiapkan yang berfungsi untuk menampung gabah kering dan akan dikeluarkan apabila ada warga yang membutuhkannya. Kalau ada musibah, gabah akan dikeluarkan tergantung kebutuhan. Akan tetapi, diambil dari lumbung, bukan hanya dari satu lumbung. Warga yang kehabisan gabah bisa meminjam dari warga lainnya atau dari lumbung paceklik. Karena itulah, warga Kasepuhan Ciptagelar tidak boleh menjual gabahnya kepada orang luar. Alasannya sederhana saja, mereka hidup jauh dari perkotaan jika suatu saat membutuhkan beras, tidak mungkin bisa mendapatkannya saat itu juga. Meskipun "larangan" itu tidak tertulis dan bahkan juga bukan suatu larangan yang ada sanksinya bila dilanggar, seluruh warga Kasepuhan Ciptagelar menaatinya.

Kemandirian warga adat Kasepuhan Ciptagelar di bidang pangan hanyalah salah satu bentuk kemandirian warga adat tersebut. Dalam bidang-bidang lainnya, sifat kemandirian itu terus dikembangkan dan dipraktekan. Kegiatan-kegiatan yang ada itu tidak terlalu banyak membutuhkan uang, tetapi juga tenaga.
Untuk pembangunan jalan, misalnya, bantuan warga bukan berbentuk uang, tetapi tenaga. Ayo nyangkul ramai- ramai, yang kalau diuangkan nilainya puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jadi, modal dasarnya tenaga, keinginan, kebersamaan, bisa sama-sama mengerjakannya. Praktek tenaga dan kebersamaan itu pulalah yang menonjol terlihat dalam tiga hari pelaksanaan.

Pada waktu kampung ciptagelar dibentuk, dengan bergotong-royong mereka membangun rumah-rumah dan sarana prasarana sebuah kampung lainnya, termasuk Imah Gede yang merupakan tempat para tamu diterima, serta Imah Rurukan yang menjadi tempat tinggal Abah Anom. Bangunan rumah mereka sepenuhnya berpegang pada nilai adat, yaitu tidak boleh beratap genting atau seng, tidak bertembok bata dan semen, tetapi merupakan rumah panggung yang dominan kayu dan bambu, serta beratap ijuk campur daun kirai.

Secara rasional dapat dikatakan bahwa alasan perintah untuk pindah itu terkait dengan sudah semakin padatnya populasi di kampung mereka terdahulu, yang dikhawatirkan akan semakin mempersulit warga untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup mereka. Apalagi, lahan di lereng Gunung Halimun itu memang masih banyak yang belum dimanfaatkan.

Yang jelas, memandang Kampung Ciptagelar dari tanah yang lebih tinggi, kita akan melihat pemandangan kampung yang khas. Di balik kekhasan kampung itu terkandung nilai kegotongroyongan warga yang sangat kuat, serta kemandirian mereka untuk tidak tergantung pada bantuan pemerintah dan pihak lainnya

B.Adat Istiadat Kasepuhan Ciptagelar

Pakaian adat biasa yang digunakan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar adalah baju kokoh warna hitam atau putih bersih dan ikat kepala untuk kaum lelaki. Untuk kaum wanita biasanya menggunakan samping atau kain sarung atau kebaya. Pakaian adat ini harus dipakai saat masuk dalam imah gede (rumah abah untuk menerima tamu dan tempat melakukan kegiatan-kegiatan adat).

Tempat tinggal warga Ciptagelar harus mengikuti aturan dari leluhur dengan menggunakan rumah panggung (atap yang terbuat dari daun kerai dan ijuk) dinding terbuat dari bambu dan umpakan. Warga Kasepuhan Ciptagelar tidak menggunakan genteng sebagai atap rumah karena hidup dibawah genteng hanya untuk orang yang sudah meninggal berada dibawah tanah.

Selain pakaian adat dan rumah adat yang menjadi ciri khas Kasepuhan Ciptagelar terdapat tempat upacara adat/ritual adat yang rutin dilaksanakan. Adapun upacara adat yang terkenal hingga luar kota dan rutin dilaksanakan oleh masyarakat ciptagelar adalah pentasan dangdut.

Seren Tahun, maksud diadakan Seren Tahun ini adalah sebagai ucapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Dalam acara ini berbagai acara kesenian ditampilkan diantaranya jipeng, topeng, angklung, dogdog lojor, wayang golek Acara ini biasanya dihadiri oleh warga adat Banten Kidul. Undangan serta masyarakat luar kasepuhan ciptagelar. Acara ini merupakan acara puncak dari masyarakat kasepuhan ciptagelar seperti upacara ngaseuk, syukuran penanaman padi/upacara sampang jadian pari, selamatan pari ngidam, mapag pari beuka, upacara sawenan, syukuran metik pari, nganjaran, ngabukti dan ponggokan.

Selain upacara adat terkait dengan padi, ada upacara lain yang dilakukan masyarakat baik pimpinan adat maupun secara pribadi yaitu :
1.Selamatan 14 na disaat bulan purnama
2.Upacara nyawen bulan safar pemasangan jimat kampung
3.Rosulan permohonan
4.Selamatan beberes nebus dosa membiarkan masalah karena pelanggaran
5.Sedekah maulud dan ruah saling mengirim makanan.

C.Perekonomian

Masyarakat Kampung Ciptarasa-Ciptagelar menggantungkan hidupnya pada alam. Untuk makan, mereka peroleh dari hasil kebun seperti beras dan sayuran, sedangkan untuk memenuhi kehidupan lain, pendapatan mereka peroleh dari usaha samping berupa hasil bumi cengkeh, kopi, pisang, gula aren, singkong untuk pembuatan kripik dan peternakan kambing, ayam dan itik. Disamping itu ada juga pembuatan kerajinan berupa anyaman yang dibuat bahan lokal yang ada disekitar perkampungan.

Hasil panen tanaman padi diolah dengan menggunakan lesung yang terbuat dari kayu, dan ditumbuk sesuai dengan kebutuhan sedangkan sisanya disimpan di lumbung padi (leuit). Begitu juga dengan pembuatan gula merah, dengan menggunakan bahan lokal yang ada disekitar kampung maka dibuat gula merah dengan hasil yang apabila dijual ke pasar dengan harga Rp. 17.000/bh.


D.Infrastruktur Penunjang

Kampung Ciptagelar juga dikenal mandiri untuk pembangunan berbagai fasilitas mulai dari jalan hingga permukiman. Mereka juga tidak tergantung dengan dunia luar. Kebutuhan energi terutama dipasok dengan pembangkit listrik tenaga mikro hidro. Orang sini terkenal pandai membuat kincir air, biasanya sering diminta untuk membuat kincir di daerah lain.

Untuk menunjang aksesibilitas masyarakat ke daerah lain, maka dibuat jalan dan jembatan sederhana. Dalam pembangunan jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya, warga Kasepuhan Ciptagelar melakukannya dengan tenaga mereka sendiri. Beberapa proyek pembangunan jalan dan jembatan yang seharusnya menelan biaya hingga ratusan juta rupiah dilaksanakan sepenuhnya atas swadaya masyarakat adat Kasepuhan tersebut.
Disamping itu, wilayah ini memiliki empat turbin yang dapat menghasilkan energi listrik hingga 353.000 watt. Keempat turbin itu merupakan bantuan dari lembaga JICA, UNDP, Pemprov Jabar, dan hasil tabungan Yayasan IBK Jakarta.

Untuk menunjang pelaksanaan pendidikan, diselenggarakan secara mandiri. Di Ciptagelar yang baru berdiri tempat tahun lalu telah bangunan sekolah tiga lokal. Kampung Ciptagelar juga memiliki media informasi berupa radio komunitas. Investasinya dibantu Institut Bisnis dan Ekonomi Rakyat, Rp 8 juta untuk membeli sejumlah peralatan. Pendiri radio komunitas, Ugi Sugriana yang juga anak Abah Anom. Radio komunitas didirikan untuk mengembangkan adat dan budaya. Berbagai ragam kesenian Sunda seperti kesenian wayang golek, klasik sunda, dan dog dog lojor diperdengarkan. Kedepannya akan diupayakan program pendidikan dan kesehatan.
Sebenarnya radio ini didirikan untuk kepentingan warga, yang
mendapat bantuan dari warga luar Kasepuhan Adat. Kekuatannya hanya 20 watt.
Untuk kepentingan komunikasi dan informasi dari kasepuhan untuk warga di
sekitar, yang sifatnya untuk media hiburan yang masih bersifat tradisi. Yang
mengedepankan adat istiadat Karena keterbatasan daya listrik, radio mengudara dengan waktu terbatas pula. Siaran Radio hanya mengudara malam hari, karena kalau siang warga banyak yang berada di ladang.

Warga sangat merasakan manfaat radio, mereka mengaku sejak ada radio warga tidak pernah ketinggalan informasi. Mulai dari kegiatan adat sampai hiburan lagu sunda. Banyak gunanya selain komoditas hiburan, tetapi juga untuk
informasi antara Kasepuhan Ciptagelar.


E. Kelestarian Lingkungan

Warga adat Kampung Ciptagelar sudah sejak lama berpartisipasi langsung dalam penjagaan kelestarian hutan lindung Gunung Halimun. Bahkan di lingkungan adat, dikenal dua istilah penjagaan hutan yakni "hutan titipan" dan "hutan tutupan". Disamping itu, ada juga hutan garapan yang dapat digunakan warga untuk kepentingan hidupnya.

"Hutan titipan" yaitu hutan yang bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan warga adat, termasuk untuk pemindahan warga adat. Itu pun jika ada wangsit karuhun harus pindah tempat. Kalaupun terpaksa mengambil kayu, sebatas untuk keperluan pembuatan rumah warga ataupun sekadar untuk kebutuhan kayu bakar.
Lain lagi dengan "hutan tutupan". Hutan ini sama sekali tidak boleh dimasuki atau diganggu warga untuk keperluan apapun. Sekalipun hanya mengambil ranting dan dahan pohon, tetap tidak boleh. Bahkan mereka begitu percaya, jika ada warga yang berani memasuki hutan tutupan maka akibatnya akan kabendon atau kualat sebab sudah melanggar aturan adat.

Dengan adanya istilah dua kelompok hutan tersebut, secara tidak langsung mereka telah memilah-milah kelompok dan fungsi hutan. "Hutan tutupan" bisa diartikan hutan lindung yang perlu dilestarikan dan dilarang merusaknya.
"Fungsi ’hutan tutupan’ ini tak hanya mesti dilestarikan guna mencegah terjadinya berbagai musibah seperti longsor, banjir, atau kekeringan. Melainkan sudah diikat oleh sanksi adat bila ada yang melanggarnya. Jadi, warga adat di sini sama sekali tidak merusak hutan, justru sebaliknya melestarikan hutan,".

Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, pemimpin Adat Ciptagelar pun sangat mempriotitaskan program penghijauan hutan. Penghijauan juga guna menjaga daerah resapan air yang besar manfaatnya untuk kepentingan warga adat. Pentingnya menjaga dan melestrarikan hutan lindung ini, memang telah dirasakan sangat besar manfaatnya untuk kehidupan dan kesejahteraan mereka. Buktinya, pemakaian energi listrik di kampung adat ini memanfaatkan aliran air sungai melalui teknologi mikrohidro.


E.Leasson Learned

Kehidupan masyarakat Kampung Ciptagelar sangat memegang teguh adat/norma yang telah ada sejak dahulu. Mereka beranggapan bahwa apa yang dikatakan abah adalah perintah yang harus ditaati dan tidak boleh dilarang. Larang-larangan yang diberlakukan termasuk tempat-tempat yang dianggap sakral dan tidak boleh didatangi (pamali) terutama hutan, oleh masyarakat hal tersebut dilaksanakan sesuai dengan yang diperintahkan. Adapun tujuannya dari larangan tersebut tidak lain adalah untuk menjaga kelestarian hutan dan ketersediaan sumberdaya hayati yang ada dalam dalam hutan tersebut.

Disamping itu manfaat dari pelestarian hutan ini adalah untuk mencegah terjadinya berbagai musibah seperti longsor, banjir, atau kekeringan. Program penghijauan juga dilaksanakan guna menjaga daerah resapan air yang besar manfaatnya untuk kepentingan warga adat. Pentingnya menjaga dan melestrarikan hutan lindung ini, memang telah dirasakan sangat besar manfaatnya untuk kehidupan dan kesejahteraan mereka. Buktinya, pemakaian energi listrik di kampung adat ini memanfaatkan aliran air sungai melalui teknologi mikrohidro.

Masyarakat tidak kaku dan terbuka terhadap teknologi baru yang ditawarkan, karena oleh pimpinan adat sendiri memberi kesempatan kepada warganya untuk berkembang menjadi lebih baik tanpa harus meninggalkan adat, budaya dan norma yang telah ada dalam masyarakat.

Pembangunan lumbung pangan sebagai tempat penyimpan beras merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan pangan selama satu tahun, karena di Kampung Ciptagelar musim tanam padi hanya dilakukan satu tahun sekali dengan maksud untuk menjaga kesuburan tanah.

V. PENUTUP

Demikian hasil analisa masyarakat Kampung Ciptarasa dan Ciptagelar Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi ini dibuat. Kiranya dapat menjadi masukan dan lebih disempurnakan untuk dapat dimanfaatkan pada pelaksanaan perkuliahan Masyarakat dan Kelembagaan Pedesaan di tahun-tahun mendatang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar